06 January 2014

Rempong Ingusan Karena Tempong


Terdampar di Denpasar, kelaperan dan kehausan! 
Setelah check in di hotel, ceritanya mau langsung cari penganjal perut di daerah Denpasar, tapi kok bingung mau makan apa ya. Hampir semua menu yang direkomendasikan untuk turis pun sudah dicoba. Selama ini sih hanya mendapat rekomendasi dari sesama traveler alias pendatang di pulau Bali yang notabene kurang referensi dengan selera lokal. Sambil mengisi bensin, iseng saya menanyakan ke Bli yang sedang duduk santai di sana. "Yang enak di Denpasar ya? Khas Bali? Nasi campur, babi guling chandra, ayam taliwang sih biasanya diminati turis," dijawabnya dengan logat khas Bali. 

"Gimana kalau coba Nasi Tempong mba?" 

"ehh?? apa Bli? Tempong? Apa pula itu?" 

"Kalau suka pedes dan yang goreng-goreng pasti suka deh mba. Bisa pesan cumi goreng, ayam goreng kampung dan lele. Sebenarnya itu khas Banyuwangi, tapi belakangan mulai ramai di kunjungi orang Bali," dijelaskan lebih lanjut oleh Bli.

Penasaran juga, selain namanya yang memang sangat asing di telinga karena baru pertama kali saya mendengar Nasi Tempong. Akhirnya selesai isi bensin dan berpamitan, kami pun segera meluncur ke tempat makan yang di maksud. Terletak tidak jauh dari tempat kami mengisi bensin, tempat ini tidak memerlukan navigasi advanced alias nyasar dan tanya ke kanan kiri sampai senewen untuk menemukannya. Selain jalan yang gampang diakses karena terletak di jalan raya besar area parkir untuk kendaraan pun memadai.

Jadi, sebenarnya Nasi Tempong itu apa?

Nasi Tempong adalah santapan khas Banyuwangi, Jawa Timur. Biasanya di sebut Sego Tempong oleh penduduk Banyuwangi. Sego mempunyai arti nasi, sedangkan Tempong? Sederhana saja, saking pedasnya kalau makan Nasi Tempong serasa di "Tempeleng" , dimana tempong artinya tempeleng. Disajikan dengan lalapan atau sayuran hijau yang sudah direbus seperti terong, bayam, kenikir, labu siam. Dipermanis dengan lalapan populer Indonesia yaitu timun, Nasi Tempong ini semakin mengggugah selera dengan pilihan lauk seperti ikan, cumi, ayam dan tahu tempe. Tidak lupa, Ikan Jambal goreng tepung setia menemani pulennya nasi putih yang masih panas menggepul. Kemudian, apa yang membuat Nasi Tempong ini berbeda dengan pecel lele atau ayam goreng kaki lima? Sambalnya! Dengan wangi terasi dan kencur yang khas, sambel ini tampil cantik menawan dengan warna merah dari cabai pedas yang buat saya, sudah bukan terasa ditempeleng lagi, melainkan ditonjok!

Nasi Tempong Indra
Setelah browsing, ternyata Nasi Tempong ini sudah menjamur dan diterima dengan baik oleh masyarakat Denpasar. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai kedai makan yang mengusung Nasi Tempong sebagai menu jualan. Pilihan kami pun jatuh ke Nasi Tempong Indra, rumah makan tersebut yang menjadi pilihan, karena direkomendasikan oleh Bli yang kami temui di pom bensin dan konon katanya adalah rumah makan pertama yang menjual Nasi Tempong di Denpasar.

Lokasinya pun mudah dicapai. Terletak di Jalan Imam Bonjol 253 Ruko Ganesha No. 12, tidak jauh dari Jalan Teuku Umar, yang merupakan area utama Denpasar. Berhubung kami kesana tidak pada saat jam makan, tempat ini pun terlihat sepi. Ruko yang tidak berAC ini terlihat nyaman dan rapi, dapurnya pun terbuka dan terawat. Kita tinggal memilih, duduk di luar bagi yang butuh merokok atau dalam ruko yang tentu saja lebih adem dari sengatan matahari sore.

Biar tidak tersesat ketika mencari rumah makan ini, bisa menggunakan patokan peta sederhana dibawah. Menurut informasi dari website resminya, Nasi Tempong Indra mempunyai 2 cabang yang bisa dikunjungi dari pukul 09.00-22.00. Tapi sebaiknya sebelum kesana, lakukan konfirmasi dahulu. 







Setelah memilih cukup lama, akhirnya pilihan jatuh di cumi goreng (45.000/porsi), lele goreng (21.000/porsi) dan tempe penyet (13.000/porsi). Berhubung akan makan sambal pedas, kami semua sepakat memesan teh hangat manis saja untuk menetralisir sengatan cabai yang konon bisa membuat kita serasa di tempeleng! Benarkah demikian? Mari kita buktikan!

Nasi Tempong Cumi Goreng

Nasi Tempong Tempe Penyet

Nasi Tempong Lele Goreng

Sambel Terasi Tempong

Pertama, disajikan teh manis hangat yang rasanya ya...teh biasa aja, tidak terasa wangi menohok ala melati ataupun pandan. Tetapi ekspektasi terlalu tinggi dengan harga teh yang dibanderol seharga 4.000 pergelas ini pun akan segera terobati. Tidak lama pramusajinya membawakan sambel lengkap dengan jeruk nipis serta kecap manis. Kecap manis bukan pilihan bagi saya untuk dicampurkan ke sambel, karena menurut saya akan merusak rasa bawang dan cabai yang sudah di giliing. Sedangkan jeruk nipis buat saya wajib hukumnya dicampurkan ke sambel untuk mengangkat rasa tomatnya. 

Saya adalah penggemar sambel, walau tidak segila pencinta sambel sejati yang bisa makan rawit seperti makan permen. Toleransi saya terhadap sambel masih terbilang tinggi. Sebagai indikasinya, cabe ayam taliwang masih bisa dinikmati dengan nikmat tanpa kesusahan menahan napas karena merasa kepedesan.

Begitu saya melihat porsi sambel yang disajikan di Nasi Tempong Indra komen saya, "ya olloohh sekumprit bener porsi sambelnya, ga sampai satu sendok nasi kayanya. Mana cukup buat sepiring nasi, lauk dan lalapan yang banyak ini?" dengan sedikit kecewa saya mulai mengambil timun untuk mencocol sambel tempong ini. 

Gigitan pertama, membuat mata saya terpejam dengan erat sekali! tendangan rasa pedas cabai langsung naik ke ubun-ubun kepala. Sepertinya saya sempat merasakan dunia gelap sebentar dan otomatis lidah saya pun terjulur keluar dengan tidak elegannya, duh kalau fine dining sudah dipastikan saya ditendang keluar, sungguh merusak pemandangan. Teh manis hangat yang tadinya membuat saya kecewa sekarang menjadi begitu berharga. Sambil menenggak teh tersebut pelan-pelan, saya mengecek keadaan teman yang ternyata tidak jauh berbeda. Butiran keringat langsung menetes di muka mereka,  sambil menggaruk-garuk kepala karena kepedasan dan sesekali mereka juga menjulurkan lidah untuk mendinginkan rasa pedas yang begitu  nyata dilidah.

Sambil makan, saya pun sibuk mengatur napas sambil memegang tissue melap keringat dan menjaga ketersediaan teh manis hangat yang berharga ini tidak sampai kosong. Belum lagi nasinya yang pulen dan mengepul-gepul panas ditambah cumi goreng yang digoreng kering garing tapi terasa empuk ketika di gigit. Lalapan yang disajikan pun tidak malu-maluiin, terasa segar dengan porsi yang begitu besar. Membuat acara makan sore benar-benar tidak terlupakan. 

Saya benar-benar kepedasan dan rempong ingusan karena tempong! Sambel yang tadi saya anggap porsinya kecil ternyata setengahnya pun tidak mampu saya habiskan. Mengaku penggemar sambal? Wajib mencoba kuliner ini ketika berkunjung ke Bali, Denpasar. Atau justru kalian sudah pernah mencobanya? Seperti apa pengalaman kalian saat mencicipi makanan ini?


Until next belly station,


Love,
M
find me on Twitter | Instagram | FB page | Youtube : @PygmalionLand


Tulisan ini untuk diikutsertakan dalam Daihatsu - Jelajah Kuliner Blog Competition
wish me luck guys!
Like FB page daihatsu untuk info lomba dan hadiah yuk






16 comments:

  1. Nasi tempong memiliki ciri khas penampilan dengan varian nama unik, dan rasa bumbu alami tradsonal Indonesia.
    Sukses untuk kontesnya Mba.

    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi mas atas doanya :) , mudah-mudahan menang dan bisa menulis kuliner yang bikin ngeces pembaca blog ini heheh.

      Delete
  2. apapun lauknyaa asalkan pake ni tempong, delish!! :9

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget! walau pedes tapi ketagihan

      Delete
  3. duh cii jadi ngiler nih malem2 xD enak banget ya kayaknyaa :9

    ReplyDelete
  4. jadi kepingin..cumi gorengnya pun menggiurkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuminya gede banget, porsinya ga bikin sakit hati hehehe

      Delete
  5. Wuaaah, pedes banget ternyata. Saya yang di bali aja malah blom pernah cobain itu nasi tempong indra..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh orang bali hehehehehe. ayo cobaiin, tar kabar2in rasanya

      Delete
  6. Emang dahsyat rasanya, dulu nyobain yg di marlboro, makan sampe pening kepala cekot2, butuh nafas bolak balik supaya ga semaput rsnya soalnya 1 piring sambel itu ta habisin. Hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah aku pikir aku doang yang sampe pening pengen pingsan. tapi emang tuh sambel dashyat abis

      Delete
  7. Sedapnyeeeee!!! Argh jd lapar, tp cari dimana disini yang kayak begitu yah :((

    http://visitkarlina.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. karlina emang dimana? jakarta?
      katanya jakarta ada cbangnya lho di daerah jaksel.

      Delete