12 December 2013

Tenggelam dan Bernapas di Kedalaman 18 Meter

Berawal dari tugas penelitian dari kampus tentang topeng Bali dibulan April 2013 kemarin, akhirnya saya dengan 3 teman lainnya berangkat kesana. Dengan tujuan utamanya penelitian sambil diselingi dengan sedikit jalan-jalan. Sudah sampai Bali, tanggung rasanya kalau tidak ke pantai. Kebetulan 3 temanku yang ikut adalah diver yang sudah bersertifikat open water dan bahkan sudah ada yang mengantongi sertifikat advanced. Bedanya, open water hanya bisa dikedalaman maksimal 18 meter, selebihnya harus mengambil sertifikasi ke level berikutnya yang memungkinkan kita untuk melakukan dive yang lebih variatif seperti night dive ataupun deep dive.

Saya sendiri hanya pecinta laut, pantai serta langit biru lengkap dengan awan berbentuk marshmallow. Snorkeling satu-satunya keahlian saya ketika bermain di laut, menyelam 3-5 meter dalam satu tarikan napas masih bisa saya lakukan. Tapi untuk diving, diperlukan kursus hingga ujian yang disetarakan oleh badan Internasional. Walaupun termasuk olahraga ekstrim, sebenarnya olahraga ini tidaklah berbahaya, hanya diperlukan pengetahuan lebih untuk keselamatan di bawah lautnya.

Diving sudah terbersit dalam benak saya sejak 5 tahun yang lalu. Berbagai video bawah laut, artikel bahkan ratusan foto bawah laut sudah saya lahap sampai eneg. Selalu rajin ke pameran Deep & Extreme hanya untuk merasakan kegairahan suasana pencinta laut serta olahraga ekstrim. Kalau pakai istilah gaul, udah 'kebelet' banget pengen diving! Namun banyak sekali pertimbangan yang menghalangi niat saya. Dari mitos hiu yang akan membahayakan kita, kehabisan oksigen sampai meninggal, alat yang malfunction dan sampai di biaya kursus yang lumayan mahal. Belum lagi kita harus investasi ke alat selam dasar yang kualitasnya bagus.

Saya pernah menanyakan ke teman, total biaya yang dikeluarkan untuk pemula lengkap dengan alat serta sertifikasi berkisar berapa? Standar mereka menjawab 3-4juta untuk sertifikasi dan 2.5-4 juta untuk peralatan dasar menyelam seperti snorkel, masker, fin, booties serta wetsuit. Harga juga bervariasi tergantung merk yang kita senangi.


Ketika ada kesempatan ke Bali bersama teman penyelam, yang sudah pasti akan menyelam di Bali. Saya pun harus memutuskan, hanya menunggu di perahu dan berenang cantik di sekitarnya, atau ikut terjun tenggelam ke bawah laut. Teman saya yang lain tidak ikut, menawarkan atau bisa dibilang mudah-mudahan tersetani menjadi diver, meminjamkan satu set peralatan dasar menyelam milik istrinya. Dan akhirnya saya pun memutuskan untuk ikut mereka terjun ke Nusa Penida di spot Crystal Bay, Manta Point. Sebenarnya area ini bukan untuk pemula, dikarenakan arusnya yang lumayan kencang.

Hasil dari diving pertama? Meeting point di Sanur Bay, saya diberikan satu guide khusus yang menemani saya di kedalaman rendah. Awal guide tersebut mengatakan hanya akan membawa saya ke kedalaman 5 meter saja, karna yang saya lakukan disebut discovery scuba alias coba-coba saja. Diawali dengan briefing lokasi, pengenalan alat dan cara menggunakannya. Belum selesai dengan repotnya memakai wetsuit yang tebal, saya masih harus mengangkat beban tabung seberat 13kg yang diisi udara untuk digunakan sekitar 30-60 menit.







Adrenalin semakin tinggi, ketika saya diharuskan melakukan gerakan backroll (duduk dengan peralatan lengkap dipinggir kapal, dan harus menjatuhkan diri ke air dengan punggung duluan). Asinnya air mulai terasa ketika saya mencari-cari udara seketika saya terjatuh ke laut. Masih tidak terbiasa bernapas dengan regulator atau alat bantu pernapasan, belum lagi ketatnya wetsuit yang membuat saya semakin susah begerak. Ditambah terhimpitnya rongga dada untuk bernapas oleh BCD (alat bantu selam) yang mengembung untuk membantu mengapung.

Sebelumnya saya harus mengisi form yang bersifat formal sesuai prosedur keselamatan dari dive operator.



Setelah checking peralatan sebelum turun ke bawah laut, jantung saya semakin berdegup kencang, berbagai pikiran negatif mulai muncul. Tapi untungnya divemaster saya sangat berpengalaman, dan beliau terlihat sangat menguasai medan. Cukup untuk menenangkan saya.


Untuk memakai wetsuit ini, benar-benar menguras tenaga!





NUSA PENIDA
Spot pertama Crystal Bay - 40 menit - sisa 50bar
Sambil menunduk ke bawah, melihat ikan-ikan yang berenang di karang, hati saya sudah mulai sedikit tenang. Ketika tanpa disadari, udara yang di BCD mulai dikempeskan agar saya bisa tenggelam secara perlahan. Tidak lupa, selalu equalizing agar telinga tidak pengang. Saya terlalu fokus melihat kebawah pada satu titik saja. Hanya melihat satu karang dan ikan disekitar, sambil berdoa semoga saya tidak lupa cara bernapas dengan air. 

Air sangat jernih, bahkan buat saya ini keterlaluan jernihnya. Jarak 25 meter pun masih terlihat sangat jernih sekali. Walaupun kata divemaster saya, saat ini kondisinya lagi butek. Tidak heran spot ini dinamakan Crystal Bay. Benar-benar sebening kristal. 

Satu hal yang sangat berbekas dihati, ketika saya hampir mencapai pasir dekat karang dibawah, divemaster memanggil saya untuk melihat keatas. Sesaat saya benar-benar lupa bernapas. Terdiam dan hanya bisa berkedip-kedip tidak mempercayai apa yang saya lihat. Ratusan ikan warna warni berenang di atas kepala saya, ditambah ray of light yang sangat terang. Saya dihujani ikan, melihat para snorkel berenang di atas kepala saya. Tidak terasa, ternyata saya berada di kedalaman 12 meter. Lupa dengan segala resikonya, lupa dengan hiu, lupa dengan utang *lho :) . Saat itu saya benar-benar bersyukur tidak ketakutan dan hanya duduk menunggu diperahu.

dan sesi pertama pun selesai, berakhir dengan sempurna. Kekhawatiran saya yang begitu besar langsung hilang. Selayaknya snorkeling di laut, diving pun saya rasakan begitu aman dan nyaman.
Sesi kedua di lanjutkan ke Manta Point. Tempat ini diburu teman saya hanya untuk melihat ikan manta pari besar yang bisa mencapai 7 meter sedang membersihkan diri di karang.

Spot kedua Manta Point - 30 menit - sisa 100 bar
Spot ini dekat sekali dengan karang dinding, jadi tidak heran ombak yang menghempas sempat membuat 2 teman saya sedikit mabuk laut dan akhirnya penyelaman tidak bisa dilakukan dengan waktu lama. Selain itu, kita juga harus berhati-hati untuk tidak menyentuh dasar pasir dimana stingray bersembunyi. Tidak sebening dan setenang Crystal Bay. Jarak pandang juga tidak begitu bagus, karna pasir yang terangkat oleh ombak. Spot ini hanya menjual kehadiran ikan manta. Tapi sayang sekali saat itu kami tidak beruntung. Tidak ada satupun manta yang sedang berenang di spot itu. Penyelaman pun dihentikan karena ombak yang besar.


Spot ketiga Mangroove Point - 45 menit - sisa 50 bar
Setelah selesai makan siang di atas kapal dengan menu nasi campur khas Bali, kami kemudian bertolak ke Mangroove Point. Spot ke 3 ini merupakan diving dengan cara ngedrift alias mengikuti arus saja. Bahkan kita tidak perlu cape-cape mengayuh, cukup ikut arus dan menikmati karang dibawah. Tentunya ini membutuhkan skill bouyancy yang bagus agar profil penyelaman tidak yoyo atau naik turun. di spot  ketiga Mangroove Point ini, penyelaman terasa begitu nyaman, yang saya lakukan hanya mengambang dengan jarak pandang yang bagus sehingga saya bisa melihat karang-karang serta ikan dengan jelas.

Penyelaman pun selesai, dalam perjalanan pulang. Saya teringat satu spot di tulamben yang merupakan destinasi favorit diver di seluruh dunia. Reruntuhan kapal perang dunia ke 2 ini sangat menarik untuk dijelajah. Dengan panjang 120 meter dan kedalaman penyelaman hingga 40 meter. Saya yang sudah merasa senang dengan menyelam, langsung mengusulkan ke mereka yang memang hanya berencana menyelam sehari saja. Diskusi terjadi dan kita sepakat untuk ke tulamben besok paginya untuk melakukan 3 penyelaman.

Setelah beraktifitas dari subuh, sampe 6 sore. Sampai di rumah kami harus bilas peralatan yang dipakai, untuk menjaga keawetannya. Tidak boleh dijemur langsung dibawah matahari karna akan merusak. Selesai berberes, saya bergegas ke kamar untuk segera tidur. Besok kami akan melakukan penyelaman kembali dan harus bersiap-siap dari jam 5 pagi. Oleh-oleh dari diving hari ini adalah hidung membiru, keseringan memencet terlalu keras untuk equalizng. Maklum, masih pemula jadi mencetnya sekuat tenaga. Tapi curiganya sih, masker yang dibuat untuk hidung bule ini membuat saya merasa pesek.




TULAMBEN
Berasal dari kata "Batulambih", adalah nama sebuah desa yang berati banyak batu yang diakibatkan oleh meletusnya Gunung Agung. Seiring dengan waktu, kata ini berubah pengucapannya menjadi Batulamben dan akhirnya menjadi Tulamben. Kenapa area ini menjadi destinasi favorit diver seluruh dunia? Tidak lain karena adanya kapal karam yang berada dekat sekali dari bibir pantai, tidak sampai 5 meter dari tempat saya berdiri di bawah pohon ini. Pada tanggal 11 Januari 1942, kapal kargo USAT Liberty ini memuat muatan seberat 6,211 ton dan pada saat melintasi selat lombok, tertembak oleh torpedo yang diluncurkan oleh kapal selam Jepang. 

Karena mengalami kerusakan parah, kapal kargo ini ditarik ke bibir pantai oleh beberapa kapal Amerika lainnya untuk menyelamatkan muatan di dalamnya. Bangkai kapal ini tetap berada dipantai Tulamben selama 21 tahun yang akhirnya ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963, kapal tersebut terdorong ke pantai dan tenggelam. Hingga kini, kapal tersebut masih berada di kedalaman 30 meter dan menjadi tujuan pariwisata diving.

pic source : tulambenwreckdrivers.com




Jadi bisa dibayangkan, keanekaragaman species ikan yang berlindung dan menjadikan kapal karam ini sebagai rumahnya menjadi satu-satunya alasan saya untuk nekat diving ke dua kalinya. Buat saya, melihat ship wreck dibawah laut merupakan keasikan tersendiri. Bosan memandang ikan, kita bisa mengamati reruntuhan kapal, bahkan memasuki area yang aman. Langsung berasa seperti Lara Croft menjelajah dunia baru. 2 kali menyelam di USAT Liberty dan 1 kali di drop off yang konon katanya merupakan surga bagi fotografer makro bawah laut.

Makan siang setelah dive 2 kali :) , Tuna sambal Matah plus mashed potato yang overly butter!



Tidak banyak yang bisa saya reportasekan, selain tidak mempunyai housing underwater untuk kamera. Saya sendiri terlalu larut dalam keheningan dan gravitasi dalam laut. Tapi masih ada sedikit oleh-oleh dari video yang di edit oleh Jonata Witabora, gambar di ambil dengan Hero Go Pro 1 tanpa menggunakan filter merah jadi agak dimaafkan ya. Merupakan hasil syuting kompilasi antara saya dan Witabora. enjoy :)

Let's Dive :)

Love,
M

2 comments:

  1. Jadi pengen liburannn :)

    http://bit.ly/HBDMsMahadewi

    ReplyDelete
  2. diving nya seruu banget kayaknya !! jadi makin pengen coba..soalnya selama ini ketakutannya emang hiu, ntar kalo malfunction alatnya, etc..kan ngeri..scr dalam air..tp baca blogpost ini + liat video nya jadi makin tergoda untuk coba..haha

    http://amourpixie.blogspot.com/

    ReplyDelete