15 February 2013

Travel Poison : Melihat Indonesia dari Nol Kilometer


Yang suka jalan-jalan angkat tangan :) *atau komen dibawah
Kali ini saya mau meracuni kalian dengan salah satu daerah wisata di Indonesia yang
acap kali sedikit terendam dengan berita-berita yang justru tidak mengangkat wisata tersebut,
sebutlah konflik senjata yang dulu sering terjadi dan bahkan pernah dihantam tsunami 2004 silam.
Ya, kali ini saya mau mengajak kalian untuk melihat sepenggal tanah Indonesia dari nol kilometer.


Kenapa disebut nol kilometer? karna aceh merupakan titik terjauh bagian barat di Indonesia
yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Kemudian diibuatlah Tugu Nol Kilometer di Sabang
untuk menandainya yang di prakarsai pendiriannya pada tahun 1987 oleh Menteri Riset dan Teknologi
yang menjabat pada saat itu adalah, Prof. DR. ING. B.J Habibie. Tugu ini bukan saja menjadi
penanda ujung terjauh bagian barat di Indonesia tetapi juga menjadi objek wisata sejarah bagi
wisatawan domestik maupun mancanegara.

Saya sendiri belum pernah ke Aceh, hanya menikmatinya lewat layar televisi, koran dan internet,
dan sumpah mati saya sangat berkeinginan sekali kesana dan melihat langsung keindahan
Serambi Mekkah ini.  Sehubungan dengan Tahun Kunjungan Wisata atau Visit Aceh Year 2013,
 @iloveaceh mengadakan Lomba Menulis di Blog 2013 yang bertujuan untuk mengenalkan Aceh
 secara khas lewat tulisan dan gambar yang masih belum terekspos oleh media. Dan dari lomba ini,
akan dipilih 3 pemenang untuk mengikuti acara HUT #3thisloveaceh di Banda Aceh.

Ini merupakan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, jika saya terpilih sebagai pemenang,
saya bisa mencicipi langsung kuliner di Aceh *slurpp, menghitamkan diri dengan berenang di
pantainya yang jernih, mencoba snorkeling melihat keindahan biota lautnya.
Bayangkan berapa artikel yang bisa saya tumpahkan di blog untuk dibagikan kepada kalian?

Walaupun pengumumannya masih lama, sah-sah saja ya kalau berangan-angan :)
dan karna belum pernah kesana, jadi akan banyak "konon katanya" hehehehh
Jika saya menang yang akan saya lakukan adalah :
1. Berteriak "Wooooooooohooooooooo"
2. Mulai mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan
3. sibuk minjam lensa kamera ke kanan kiri
4. mempersiapkan kondisi fisik *langsung treadmil 3km tiap hari :)
5. menambah memory card kamera
6. langsung membersihkan alat snorkeling untuk dibawa
7. menyiapkan topi, sunblock dan kacamata hitam. konon katanya Aceh sangat panas.

Nah persiapan sudah oke nih, setelah itu mulai menyusun itin dan akomodasi
anggap saja saya kesana 3hari 2malam, dan yang akan saya lakukan disana adalah
berdasarkan rute peta wisata  Nangroe Aceh Darussalam

Day 01
Flight Jakarta-Aceh (06:35-10:35) 4 jam perjalanan diisi dengan tidur dan baca buku, setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. Melanjutkan dengan proses bagasi.
Bandar International Sultan Iskandar Muda (source*)

dan tentunya saya akan mengisi perut dulu. Setelah mencari di Internet, warung makan
AYAM GORENG ADYTIA JAYA yang terletak di jalan lama Blang Bintang, dekat Pertamina
menarik perhatian saya. Konon katanya harus adu cepet, karna jam 13:00 saja kadang sudah ludes.
wihhh ayam kampung yang digoreng dengan tambahan daun kemanggi + cabe hijau *meleleh 

Selesai makan siang, naik taxi resmi dari bandar menuju penginapan. Konon katanya taxi di bandara
Aceh itu banyak calo yang brutal dan agresif, suka mematok harga seenak udel mereka, tapi kemarin
saya browsing diwebsite ini dan menemukan adanya taxi dengan argo resmi bandara kok. Jadi aman deh :)

Mencari penginapan di Banda Aceh tidaklah sulit dan varian harganya juga bisa disesuaikan dengan
budget masing-masing, dari harga ratusan ribu sampai jutaan. Berikut beberapa link hotel di Banda Aceh
yang saya dapat dari hasil jalan-jalan ke teman-teman blogger yang sudah duluan menginjakkan kaki
mereka disana dan berbagi beberapa snap shot penampakan hotel & rate nya :

1. Hermes Palace Hotel
Rate mulai dari Rp.800.000 

 Jl. T.Panglima Nyak Makam
Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia
Phone : +62 651 755 5888
Fax : +62 651 755 6999
Homepage : http://www.hermespalacehotel.com
e-mail : info@hermespalacehotel.com


2. The Pade Hotel
Rate mulai dari Rp.850.000
Jl. Soekarno Hatta No. 1, Desa Daroy Kameu
Kecamatan Kameu, Nanggroe Aceh Darussalam, Aceh Besar 23352
NAD - Indonesia
Ph : +62 651 49999 - Fax: +62 651 47999
Web : http://www.thepade.com
E-mail: info@thepade.com

3. Hotel 61
Rate mulai dari Rp.650.000

Alamat : Jln. T. Panglima Polem No. 28 Banda Aceh
Phone : (+62) 651 - 638877 & 638866. Fax. (+62) 651 - 638855
Email :hotel61@live.com

4. Hotel Madinah
Rate mulai dari Rp. 200.000
Jl. Tgk. H. M. Daud Beureueh
Banda Aceh
Phone: +62 651 21415, 21416

Dan masih banyak pilihan lainnya, bisa di akses di Kaskus
untuk thread khusus penginapan di Aceh


Oke, mari kita lanjut. Setelah selesai check in di hotel, saatnya berkunjung ke beberapa spot
wisata di Aceh, sekiranya untuk memudahkan mobilitas karna akan mengunjungi banyak lokasi,
saya akan menggunakan rental mobil, dan kebetulan saya mendapat informasi rental mobil
yang pernah dipakai oleh blogger ketika dia berlibur kesana. Carter mobilnya untuk keliling Aceh
dengan tariff Rp. 400.000,- (mobil, sopir dan bensin) untuk 10 jam.
CP taxi di Aceh: Pak Edy 0813 6045 3792; Pak Adi 0812 6913 231.

dan destinasi pertama adalah ke pantai yeahh, tidak lupa membawa peralatan berenang lengkap
dengan fin + snorkel dan baju ganti. Spot pertama ialah pantai Lampuuk. Weleh weleh dan geleng-geleng
melihat pemandangan yang ditangkap para fotografer handal. Pasir putih lembut, tiupan sepoi angin laut,
rindangnya pohon kelapa, membuat saya tidak berlama-lama untuk duduk begitu saja. Langsung
mengeluarkan peralatan snorkeling dan tentu saja? langsung menyelam dengan rusuh di air yang
sebening air minum mineral yang saya rasa dikasi warna biru & tosca. *hahhhhhhh blisfull

jarak tempuhnya sekitar 18 km dari pusat kota Banda Aceh, atau sekitar 20 - 45 menit kearah Meulaboh. Pantai Lampuuk ini dapat dicapai dengan menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum.

Puas bermain disaya, berikutnya saya akan bermain ke pantai Lhok Nga, yang konon katanya
digunakan sebagai spot untuk olahraga surfing dengan ketinggian ombak mencapai 3m, wih...

Cape bermain di pantai dan berenang, dan mungkin mencoba surfing *padahal ga bisa ;p
perut pasti mulai berteriak minta di isi, dan rasa ngantuk yang mulai menyerang, akibat bangun
subuh mengejar pesawat pagi. Saatnya mencari mood booster, biar seger kembali. 
Apalagi kalau  bukan kopi? kopi khas Aceh atau yang lebih beken dengan sebutan kopi Gayo.
Minum kopi adalah tradisi dalam kehidupan sehari-hari yang diwariskan turun temurun, oleh
karena itu di Aceh kita akan menjumpai banyak sekali kedai kopi, hingga tidak heran
Aceh juga sering disebut Negeri Seribu Warung Kopi. Kopi Gayo adalah kopi Arabika yang
menyumbang 40% produksi kopi Indonesia (sumber*) dan disajikan menggunakan penyaringan 
sehingga membuat kopi lebih harum dan nikmat. Harganya? konon katanya hanya Rp. 1.500-2.000


Setelah selesai foto-foto seisi warung kopi + abangnya yang menyeduh kopi untuk keperluan blog report,
perjalanan dilanjutkan kembali dengan menyegarkan diri di Air Terjun Suhom, yang mempunyai tinggi
tumpahan air setinggi 20meter. Dan air terjun ini menjadi sumber listrik untuk beberapa desa Kreung Kala,
mampu mengaliri listrik untuk 200keluarga. Berjarak kurang lebih 75 Km sebelah barat Banda Aceh atau sekitar 3 km dari jalan raya antara Banda Aceh dengan Calang, Aceh Jaya dengan harga tiket masuk
sebesar Rp. 5.000. Konon katanya sih kurang terawat dan banyak sampah :(

Puas bermain di air terjun ini, sebelum sore, saya akan menyempatkan diri untuk menyaksikan sendiri
kapal tanker yang terseret tsunami 2004 hingga ke tengah kota, dan akhirnya menjadi landmark untuk
para wisatawan untuk mengabadikan napak tilas mereka di Aceh. Untuk mencapai bangkai Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung I kita harus masuk ke jalan kampung sekitar 300 meter.  Lokasinya di Kampung Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.

Kemudian spot wisata terakhir ditutup dengan menikmati sunset di pelabuhan ELee Lheue,
yang merupakan satu-satunya pelabuhan di kota Banda Aceh, pelabuhan ini menjadi penghubung 
utama antara Pulau Sumatera ke Pulau Sabang melalui Kota Banda Aceh dengan 3 – 4 trip 
penyeberangan setiap harinya.
Foto: Raihan Lubis

Wah padat ya acara wisata angan-angan ini, kayanya sih kalau dah sunset biasanya laper
dan maunya abis makan pulang ke hotel dan beristirahat. Karna besok saya akan bertualang
ke Sabang, ke titik awal Indonesia, karena dari awal saya memang mau melihat Indonesia
dari Nol Kilometer :). Jadi apa menu makan malam sebagai penutup hari? 
tak lain tak bukan Ayam Tangkap? apa pula itu? maksudnya nangkap ayam sendiri?
Hahaha bukan, ayam tangkap itu adalah makanan khas Aceh , merupakan ayam yang digoreng
dengan berbagai bumbu rempah rempah. Dan yang membuat ayam ini wangi tak lain dedaunan
yang dipakai untuk menghidupkan aroma masakan ini seperti daun kari, daun pandan dan
salam koja, dan karena ayam tersembunyi oleh berbagai rempah dan daun, makanya dinamakan
ayam tangkap, yang konon katanya kalau disantap dengan nasi pulen panas-panas, rasanya? priceless


Day 02
Bangun dan sarapan pagi dihotel, bersiap-siap menjelajah Sabang :)
Jarak dari bandara ke pelabuhan Ulee Lheue konon katanya cuma 20 menit.
2 pilihan untuk menyebrang ke Sabang :

1. Menggunakan Fery berkapasitas 100 penumpang dengan 4 pilihan kelas yang tersedia. 
Nama kapalnya Express Bahari. lama perjalanan 45 menit dan mengeluarkan biaya sebesar 
Kelas Ekonomi          : Rp. 55.000,-
Kelas Bisnis              : Rp. 65.000,-
Kelas Eksekutif         : Rp. 75.000,-
Kelas VIP                  : Rp. 85.000,-


Jadwalnya :
Banda Aceh – Sabang
Pukul 10.30 dan 16.00 kecuali hari jumat Pukul 16.30

Sabang – Banda Aceh
Pukul 08.00 dan 16.00



2. Menggunakan kapal lambat yang berdurasi 2 jam
ada 3 pilihan kelas juga :

Kelas Ekonomi         : Rp. 18.000,-
Kelas Bisnis             : Rp. 21.000,-
Kelas Eksekutif        : Rp. 36.000,-

Jadwal nya :

Banda Aceh – Sabang
Senin, Selasa, dan Kamis Pukul 13.00 kecuali Jumat Pukul 14.00
Rabu, Sabtu dan Minggu Pukul 11.00 dan Pukul 16.00

Sabang – Banda Aceh
Senin, Selasa, Kamis dan Jumat Pukul 08.00
Rabu, Sabtu dan Minggu Pukul 08.00 dan Pukul 14.00





Kemudian... ceritanya saya sudah sampai di Sabang, apa yang akan saya lakukan?
SNORKELING!!!! dan melihat tugu nol kilometer. Kalau niat banget, akan mencoba
discovery diving, tanggung ya kayanya dah sampai di ujung sana, nekat aja coba diving.

Spot untuk diving yang oke, setelah research di internet konon katanya ada di pulau rubiah
yang berdekatan dengan Iboih, salah satu desa di pulau Weh. 
Dan untuk mencapai pulau Rubiah dari Pulau Weh, banyak disewakan perahu dengan
tarif kurang lebih 150ribu untuk antar jemput. 
Biaya snorkeling bagi yang tidak membawa bisa menyewa dengan harga Rp. 45.000
sedangkan untuk diving harus merogoh lebih, Rp. 300.000

Tentunya sebelum saya nyemplung ke air jernih, harus ke tujuan utama dulu, yaitu :
melihat tugu nol kilometer, Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Letaknya di sebelah barat kota Sabang sekitar 29 kilometer atau memakan waktu sekitar 40 menit berkendara.

Konon katanya nih jika berdiri di atas semen berbentuk lingkaran berdiameter 50 centimeter
yang terdapat di tugu nol kilometer ini, kita akan mendapatkan sertifikat dari agen perjalanan resmi
manapun di Sabang sebagai bukti kalau kita pernah berdiri disana :) , gratis?
hmmmm. konon katanya bayar Rp. 13.000


Konon katanya nih, tugu ini tidak dirawat, banyak sekali sampah berserakan dan
grafiti-grafiti yang ga jelas gambarnya hasil coretan makhluk-makhluk yang tak bertanggung jawab
sayang sekali,  tugu tersebut yang sebagai penanda menjadi titik awal Negara Kesatuan Republik Indonesia
justru tidak dipelihara :( .

Well.. daripada bersedih, mari saya paparkan angan-angan saya untuk mencicipi
kuliner khas pulau weh :
1. Mie Jalak 
mampir di Pulau Baru di Jalan Perdagangan, hanya buka pada pagi hari sekitar pukul 08.00 -11.30 
dan  sore hari sekitar pukul 16.30 hingga pukul 22.30.



2. Sate Gurita
di restoran terapung, pinggir laut masih di kawasan Jalan Perdagangan


3. Mie Aceh Kepiting Pedas


Puas bermain dan makan, saatnya bersantai dipenginapan, setelah cari-cari di internet
ternyata banyak sekali opsi penginapan yang di tawarkan di pulau weh ini, dalam angan-angan
trip ini, saya berencana bersantai di penginapan sambil menikmati pemandangan laut, makanya
peenginapan yang saya pilih adalah



Casa Nemo
Address: Pantai Sumur Tiga, Iemeulee.
Ph: 0813 6299 9942.
Email: casanemo@yahoo.com
www.casanemo.com 
Rate start from Rp. 300.000

Day 03
Bangun pagi, sarapan, siap-siap mengejar ferry keberangkatan jam 08.00 untuk mengejar pesawat
yang akan lepas landas dan meninggalkan Aceh :(
saya rasa, ketika akan meninggalkan tempat ini, saya akan merasa sedih
karna harus berpisah dengan masakan yang enak, pantai bersih dan suasana asri.

Tentu saja, meninggalkan Aceh bukan berarti tidak akan kembali lagi,
Aceh masih menyimpan sejuta spot wisata untuk di eksplorasi, hanya saja sayang sekali
kurang terdengar gaung pemasaran daerah pariwisata ini. Semoga dengan kompetisi blog ini
Aceh akan semakin berkibar dan melebarkan sayapnya dan menjadi salah satu destinasi
pariwisata baik lokal maupun mancanegara.

Semua angan-angan yang saya paparkan berdasarkan keinginan terdalam untuk mendaratkan kaki
dan membuktikan sendiri keindahannya, dari "konon katanya" yang membuat saya penasaran,
mudah-mudahan nantinya akan menjadi tulisan reportase yang bisa dipertanggung jawabkan di blog ini
sesuai fakta di lapangan, tanpa embel-embel konon katanya :)

Bagi yang ingin liburan,
apakah destinasi kali ini cukup meracuni?
so, Did I Poisoned you enough :)

Until next post,

Love,
M

8 comments:

  1. Fiktif tapi teteup bikin ngiler banget deh ci mei. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha, doaiin ya laporan berikutnya udah ga fiktif , biar makin ngiler

      Delete
  2. mi aceh !!!
    enak banget mie nya, jdi pinginn makan lagi :3
    good luck yah ce :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum pernah nyobaiin yang masakan aslinya.
      mudah2an menang dan bisa coba langsung

      Delete
  3. seru banget ci mei! semoga dari ini jadi report beneran ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aminnnn sha. aminnnnn banget.
      kalo menang, lgsg live tweet :D

      Delete
  4. Aaaaaakk jadi pengen ke Aceh <--- sukses teracuni hahaha.
    Semoga harapan-harapanmu postingan ini bener-bener terwujud yaa, Amin! ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnnn. terimakasih atas doa nya :)
      dan senang bisa meracuni walau masi sebatas reportase angan angan

      Delete